Buku Gaung Literasi Tanah Kayong, Menggemakan Semangat Literasi dari Tanah Bertuah Melalui

Identitas Buku

  • Judul: Gaung Literasi Tanah Kayong: Menyulut Semangat Menebar Manfaat
  • Penulis: Dwi Ariwibowo
  • Penerbit: Penerbit Forpeka (Forum Penulis Kehidupan)
  • Cetakan: Cetakan I, September 2026
  • Ukuran Buku: 14 x 20 cm
  • Jumlah Halaman: 80 Halaman
  • ISBN: [Dalam Proses]
>


Penerbit Forpeka dengan bangga kembali menghadirkan karya yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga membawa misi pergerakan sosial. Buku terbaru kami, "Gaung Literasi Tanah Kayong: Menyulut Semangat Menebar Manfaat", merupakan buah pemikiran dan rekam jejak Dwi Ariwibowo, seorang pustakawan profesional yang telah mendedikasikan dirinya selama lebih dari dua dekade di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (DKPD) Kabupaten Ketapang.


Buku yang terbit pada Agustus 2026 ini lahir dari sebuah keresahan sekaligus harapan besar: agar api literasi di Kabupaten Ketapang terus menyala dan berkobar menembus keterbatasan.

Memotret Kearifan Lokal dan Tantangan Literasi Dalam Episode Satu, penulis mengajak kita menyelami pesona "Tanah Kayong", sebuah wilayah terluas di Kalimantan Barat yang kaya akan budaya multietnis. Menariknya, penulis menyoroti bahwa akar literasi di tanah ini sudah hidup sejak lama lewat kearifan lokal, seperti tradisi bertutur syair gulung dan mantra masyarakat Melayu, hingga ketatnya hukum adat Dayak dalam menjaga kelestarian hutan.

Namun, buku ini juga secara gamblang memaparkan tantangan literasi di era modern. Kondisi geografis yang sulit, keterbatasan infrastruktur, hingga minimnya jaringan internet di daerah pelosok menjadi hambatan nyata yang melahirkan angka putus sekolah dan buta aksara.

Transformasi Perpustakaan: Dari Gudang Buku Menjadi Ruang Inklusif Salah satu kekuatan utama buku ini ada pada paparannya mengenai evolusi perpustakaan di Ketapang, dari sekadar Kantor Perpustakaan Umum pada tahun 1987 yang sunyi dan berdebu, hingga menjelma menjadi DKPD pada tahun 2016 yang sangat dinamis.

Penulis secara kritis mendobrak stigma bahwa perpustakaan hanyalah tempat menyimpan buku. Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), perpustakaan kini bertransformasi menjadi pusat pelatihan keterampilan (seperti UMKM, pertanian hidroponik, hingga menjahit) yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Aksi Nyata, Sinergi, dan Catatan Sang Pustakawan Di Episode Dua, pembaca akan disuguhi refleksi personal dan puitis dari sang penulis. Dwi Ariwibowo membagikan pengalaman turun langsung ke pelosok desa dengan jalanan terjal berbatu bersama Relawan Literasi Masyarakat (Relima), hingga mengharukannya membawa armada perpustakaan keliling masuk ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) untuk melayani warga binaan.

Buku ini juga menegaskan bahwa membumikan literasi tidak bisa dilakukan sendirian. Keberhasilan literasi di Ketapang adalah hasil sinergi berbagai pihak, mulai dari komunitas lokal (seperti Rumah Gambut, YIARI, FTBM), inovasi Pojok Baca Digital (POCADI), hingga dukungan penuh dari Bupati Ketapang dan Bunda Literasi yang terjun langsung ke lapangan.

Mengapa Anda Harus Membaca Buku Ini? "Gaung Literasi Tanah Kayong" bukan sekadar laporan kinerja, melainkan sebuah memoar perjuangan, panduan pemberdayaan, dan kumpulan kidung aksara yang memanggil rasa. Penulis juga memberikan dorongan kuat agar para pembaca tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berani mulai menulis dan menghasilkan karya yang abadi.

Buku ini adalah bacaan wajib bagi para pegiat literasi, pustakawan, pendidik, aparatur desa, dan siapa saja yang percaya bahwa buku adalah jembatan menuju pembebasan dari kebodohan dan kemiskinan.

Mari bersama-sama merawat nyala literasi. Segera dapatkan bukunya dan jadilah bagian dari agen perubahan yang menebar manfaat!

Postingan Populer